Suasana religius dan kebersamaan terasa kental di Dusun Tambak Timur saat masyarakat menggelar Selamatan Pangkalan, sebuah tradisi sakral yang telah diwariskan turun-temurun oleh para leluhur pesisir. Tradisi ini menjadi wujud syukur atas nikmat dan rezeki yang Allah SWT berikan, sekaligus mempererat tali silaturahmi di antara warga.






Diawali dengan Shalat Maghrib Berjamaah
Kegiatan dimulai dengan shalat Maghrib berjamaah yang dipimpin oleh Ustadz Madra’i. Seusai shalat, acara resmi dibuka oleh Ustadz Mas’udi. Hadir pula anggota DPRD Kabupaten Gresik, Eriel Desembrelian Prabowo, SE, tokoh masyarakat, para pemuda, serta para pelaut yang tergabung dalam Seaman Community Tambak Timur (SCTT).
Kehadiran para pelaut menjadi simbol kekuatan komunitas pesisir—menyatukan mereka yang hidup dari laut dan mereka yang menjaga budaya di darat.
Susunan Acara Penuh Nilai Spiritual
Susunan acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan istighasah yang dipimpin oleh Ustadz Madrai, kemudian pembacaan Surah Yasin oleh Ustadz Rafi’i. Setelah itu, dilaksanakan shalat Isya berjamaah, diteruskan ceramah agama, dan ditutup dengan doa penutup oleh K.H. Imam Ghazali.
Dalam ceramahnya, K.H. Imam Ghazali menjelaskan bahwa Selamatan Pangkalan bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga warisan budaya Islam Nusantara. Tradisi ini mencerminkan doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan, terutama bagi para pelaut dan nelayan yang mencari nafkah di laut.
Asal-Usul Sedekah Laut dan Warisan Temenggung Cilacap
Menurut catatan sejarah budaya pesisir, tradisi sedekah laut di Cilacap diyakini sudah ada sejak tahun 1875 Masehi, pada masa pemerintahan Temenggung Tjakra Adiningrat, seorang pemimpin yang disegani di wilayah pesisir selatan Jawa Tengah.
Tradisi ini mulanya merupakan bentuk larung sesaji ke laut sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang melimpah dan doa keselamatan bagi nelayan yang melaut. Seiring berkembangnya zaman dan pengaruh Islam, makna tradisi tersebut bergeser—bukan lagi berupa sesaji, melainkan doa bersama, istighasah, dan sedekah makanan.
Warisan nilai inilah yang kini hidup dalam Selamatan Pangkalan Tambak Timur—bukti bahwa budaya lokal dapat terus lestari tanpa kehilangan nilai religiusnya.
Tingkatan Rezeki Menurut Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya‘rawi
Dalam ceramahnya, K.H. Imam Ghazali juga menyampaikan pandangan ulama besar Mesir, Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya‘rawi, tentang makna dan tingkatan rezeki.
Beliau berkata:
“Al-māl huwa adnā darajāt al-rizq,
wa al-‘āfiyah a‘lā darajāt al-rizq,
wa ṣalāḥ al-abnā’ afḍal anwā‘ al-rizq,
wa riḍā rabb al-‘ālamīn fahuwa tamām al-rizq.”
Artinya:
“Harta adalah tingkatan rezeki yang paling rendah;
kesehatan adalah tingkatan yang lebih tinggi;
anak yang saleh adalah jenis rezeki yang paling utama;
dan keridhaan Allah adalah rezeki yang sempurna.”
Makna yang terkandung dalam ucapan ini sangat dalam — bahwa ukuran sejati dari rezeki bukanlah banyaknya harta, melainkan keberkahan hidup, kesehatan, keturunan yang saleh, dan ridha Allah SWT sebagai puncak segala karunia.
Hidangan dan Kebersamaan yang Menghangatkan
Bagian paling ditunggu-tunggu tentu santap malam bersama. Beragam masakan khas Tambak Timur terhidang—mulai dari ikan bakar dan lainnya.
Setelah acara makan malam, panitia mengumumkan bahwa seluruh kegiatan ini didanai oleh masyarakat setempat, dengan tambahan sumbangan dari para Pelaut Tambak Timur sebesar Rp 5.600.000.
Ucapan terima kasih disampaikan secara khusus kepada Seaman Community Tambak Timur (SCTT) yang selalu aktif dalam kegiatan sosial kampung.
“Semoga para pelaut Tambak Timur diberikan rezeki yang melimpah, halal, dan penuh berkah,” ujar panitia sebelum acara ditutup dengan hiburan.
Menjaga Warisan, Merawat Identitas Pesisir
Selamatan Pangkalan bukan hanya tradisi, melainkan cermin kearifan lokal dan kekayaan budaya maritim Indonesia. Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Tambak Timur membuktikan bahwa nilai spiritual dan budaya bisa berjalan berdampingan.
Tradisi ini adalah pesan dari para leluhur: bahwa syukur, doa, dan kebersamaan adalah jaring kehidupan yang menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Penutup
Selamatan Pangkalan Tambak Timur menjadi bukti bahwa warisan budaya akan terus hidup selama ada generasi yang mau menjaga dan menghormatinya.
Dari laut yang luas hingga ke hati yang ikhlas, masyarakat Tambak Timur mengajarkan bahwa rezeki bukan hanya soal apa yang datang, tetapi tentang bagaimana kita mensyukurinya — hingga akhirnya mendapatkan ridha Allah SWT sebagai rezeki yang paling sempurna.












