Kita Semua Adalah Keluarga: Lautan Menyatukan, Kapal Adalah Rumah.
Kehidupan modern seringkali menuntut kita untuk berinteraksi di berbagai komunitas, dari lingkungan perumahan hingga tempat kerja. Kita membentuk ikatan persahabatan, bahkan hubungan kekeluargaan, dalam interaksi sehari-hari di darat. Namun, ada satu komunitas yang definisinya tentang “Keluarga” terasa jauh lebih mendalam, lebih mendesak, dan tak terpisahkan: Komunitas di atas kapal.
Di tengah samudra yang luas, terpisah ribuan mil dari orang-orang terkasih, kru kapal bukanlah sekadar rekan kerja. Mereka adalah sebuah keluarga. Sebuah keluarga yang tinggal dan beraktifitas 24 jam sehari, berbulan-bulan lamanya, di dalam satu atap baja.
Nakhoda: Kepala Keluarga di Atas Lautan.
Dalam struktur keluarga di kapal, Kapten (Master) adalah kepala rumah tangga. Ia bukan hanya pimpinan teknis atau manajer operasional; ia adalah figur ayah, hakim, jaksa, dan sekaligus polisi yang harus bisa mendamaikan suatu masalah. Perannya melampaui tugas navigasi dan keselamatan; ia bertanggung jawab atas kesehatan moral dan emosional dari seluruh keluarga di bawah komandonya.
Layaknya keluarga di darat, konflik di atas kapal adalah hal yang wajar, bahkan tak terhindarkan. Gesekan, kesalahpahaman, dan ketegangan pasti muncul di lingkungan yang tertutup dan penuh tekanan. Konflik-konflik inilah yang seharusnya diselesaikan di dalam “rumah” itu sendiri.
Kapten harus menjadi pihak pertama yang mengadili, menuntut, dan memberikan teguran yang bersifat mendidik. Teguran ini harus diberikan dengan dasar kasih sayang dan niat untuk memperbaiki, bukan menghukum secara definitif. Tujuannya adalah menyelesaikan keributan dengan cara kekeluargaan, menjaga keharmonisan, dan memastikan masalah tidak berlarut-larut.
Menjauhi Omongan dan Gosip “Orang Luar”
Sangat disayangkan jika konflik internal keluarga kapal justru dibawa ke ranah publik, apalagi melibatkan pihak kantor (perusahaan) sebagai “pengadilan akhir” yang seharusnya bukan mengadili setiap kasus kecil. Mengirim video rahasia, memotret kesalahan minor, atau bahkan menambahkan bumbu fitnah lalu melaporkannya ke kantor adalah tindakan yang merusak fondasi keluarga. Ini adalah cara yang licik dan tidak terpuji.
Contoh kasus: Kru yang merokok di area selain Smoking Room (seperti di area dek kapal, atau merokok di dalam kamar), meskipun berbahaya, idealnya harus diselesaikan terlebih dahulu melalui mekanisme internal. Berikan teguran keras dan peringatan yang jelas bahwa tindakan tersebut membahayakan nyawa semua orang. Barangkali itu hanya kekhilafan atau kelalaian sesaat. Jika peringatan tersebut tidak digubris dan terus membandel dan sulit diarahkan untuk tidak merokok di area terlarang tapi masih tetap mengulangi, ini bukan lagi kekhilafan, sudah saatnya campur tangan pihak perusahaan untuk memberikan peringatan atau bahkan penghentian sangat diperlukan untuk kru yang membandel seperti ini.
Melaporkan setiap kesalahan kecil ke kantor tidak menyelesaikan akar masalah, justru menciptakan suasana saling curiga dan ketakutan. Jika masalah segera diintervensi oleh kantor, itu secara tidak langsung menunjukkan bahwa sang kepala rumah tangga (Kapten) gagal dalam mengatur keluarganya.
Mencari Akar Kesenjangan.
Seringkali, kesenjangan dan kurangnya keakraban antar kru, yang berujung pada saling cari kesalahan, berakar pada masalah kepemimpinan. Jika Kapten, Perwira Deck, atau Perwira Mesin memiliki sifat buruk, bersikap tidak adil, atau menciptakan jarak emosional dengan kru, maka akan timbul kesenjangan. Kesenjangan ini membuka celah bagi kru untuk mencari-cari kesalahan, mengirim foto/video anonim (misalnya, melaporkan perwira tidak menggunakan APD) melalui kemudahan akses video kepada orang kantor dengan harapan orang tersebut diberhentikan.
Kapal bukanlah tempat untuk menebar kebencian atau persaingan yang tidak sehat. Kita harus ingat: teknologi canggih (kamera HP) seharusnya digunakan untuk dokumentasi pekerjaan yang benar, bukan sebagai alat mata-mata untuk menjatuhkan rekan kerja.
Ayo, Bersatulah Saudaraku Sesama Pelaut!
Kita semua berada di kapal yang sama, jauh dari keluarga biologis kita, jauh dari daratan, dan jauh dari tetangga. Di atas lautan, kapal adalah rumah bagi kita, dan kita adalah keluarga satu sama lain.
Mari bersatu. Jadilah keluarga yang saling mendukung, mengingatkan dengan kasih sayang, dan menyelesaikan masalah dengan musyawarah internal. Hormati Kapten sebagai kepala keluarga, dan perlakukan rekan kerja layaknya saudara. Hanya dengan persatuan dan semangat kekeluargaan yang kuat, keselamatan, keharmonisan, dan kesuksesan pelayaran dapat tercapai.
Ayo, mari kita jaga rumah baja kita ini, bersama-sama.
Peringatan Keras: Konsekuensi Etika dan Hukum Karma.
Pesan ini ditujukan sebagai peringatan bagi individu yang terbiasa melakukan fitnah kejam untuk melaporkan dan mengupayakan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap rekan kerja.
Prinsip Hukum Karma berlaku: Setiap tindakan akan membawa hasil. Tindakan yang bertujuan untuk memutus rantai pasokan rezeki seseorang untuk keluarganya merupakan perbuatan yang tidak bijaksana dan tidak etis.
Walaupun secara kasat mata Anda mungkin tidak langsung terdampak, perlu diingat bahwa konsekuensi dari perbuatan tidak adil akan meluas ke lingkup keluarga, termasuk keturunan. Keluarga Anda dapat menghadapi masalah yang lebih besar sebagai imbas dari keputusan dan tindakan Anda.
Proses pelaporan yang benar harus didahului oleh teguran atau peringatan resmi kepada anggota atau kru yang bersangkutan, bukan dengan mengirimkan bukti secara diam-diam tanpa melalui prosedur yang semestinya karena di kapal itu ada sang pengadil yaitu Nakhoda / Master / Kapten kapal yang bisa memutus seseorang itu bersalah atau tidak bersalah dengan langkah kebijaksanaannya dengan disertai bukti yang tidak hanya diambil melalui satu pihak saja.
“Tapi yang jadi pertanyaan apakah memang Master atau Perwiranya yang sebenarnya tukang komplain?”
“Saya tidak tahu, koq tanya saya“…












